Aku Pernah Mencintaimu

Aku Pernah Mencintaimu

Aku pernah dengan sangat mencintaimu, kesalahanku. Aku pernah dengan sangat menikmati, ketika kaukoyak isi di dalam dada ini. Ketika kau tukar semua isi kepalaku dengan sesuatu yang kausuka, dikendalikan olehmu aku mulai terbiasa.

Aku pernah berjalan tak berarah ketika bersamamu dulu, seperti tujuan bukanlah lagi sebuah kepentingan bagiku. Dituntun olehmu, aku menyukainya. Apalagi ketika jemarimu mulai menguasai sekat-sekat di jariku yang tak berisi, aku seperti telah dilengkapi.

Tetapi kesalahan bukanlah sesuatu yang harus dibenarkan, bukan? Meski bagiku, kautetaplah kesalahan yang pernah kucintai. Sebuah kesalahan yang berkali-kali membuatku jatuh, namun juga yang memaksaku untuk semakin kuat menompang tubuh.

Kamu adalah sebuah kesalahan yang dititipkan Tuhan, untuk mengajariku arti sebuah penerimaan. Paradigma baru tentang toleransi sesama manusia. Tentang sesuatu yang harus dikalahkan, untuk tetap dalam satu ikatan.

Sebodoh itu aku pernah mencintaimu, kesalahanku. Ketika perlahan-lahan kaurebut semua mimpi yang telah aku susun sedemikian rupa, hanya untuk sebuah bahagia yang hanya kamu tuannya. Sementara aku, hanya seseorang yang Tuhan titipkan sebagai perantara atas do’a-do’amu, tentang seseorang yang kauminta ada untuk memahamimu. Tentang seseorang yang kauminta ada untuk mengertimu. Tentang seseorang yang kauminta ada untuk menurutimu.

Namun Tuhan berkata berbeda, bagiNya, aku untukmu hanya sementara. Hanya untuk memberikanmu sebuah gambaran, tentang betapa senangnya diagung-agungkan.

Tapi sejujurnya, aku merasa kehilanganmu, kesalahanku. Entah bagaimana jadinya kamu, bila tidak ada aku. Tak ada lagi, yang rela kaumaki. Tak ada lagi yang rela kamu jatuhkan berkali-kali. Aku takut kamu tak terbiasa. Aku takut, jika sampai saat ini, belum juga kautemukan seseorang yang bodoh sepertiku. Aku takut kamu tak lagi bahagia.

Dan yang paling aku takuti, jika kautelah berubah dan menjadi lebih dewasa, akan ada seseorang yang memperlakukanmu, seperti kamu memperlakukanku dulu. Ketika itu terjadi, aku takut jika kaumerindukanku di saat aku tengah diagungkan yang lain, dan aku tak lagi peduli denganmu.

---

Aku Ingin Merelakanmu

Aku Ingin Merelakanmu

Bukan dengan sajak, aku ingin mengindahkan kegagalan. Bukan pula dengan puisi aku ingin mengabadikan sebuah kehilangan.
Bukan berarti aku tak mengerti tentang perandaian, kekasihku. Namun sungguh aku tak butuh, keadaan ini dianalogikan.

Bukan dengan lambaian, aku ingin mencintai perpisahan. Bukan pula dengan airmata, aku ingin melukis kesedihan. Bukan berarti aku tak mengerti tentang ungkapan, kekasihku. Namun memang sungguh aku tak butuh, rasa ini digambarkan.

Aku ingin merelakanmu dengan caraku, seperti pena yang tak sempat menulis kata pisah, sebab telah habis untuk menggores luka. Aku tak perlu kata untuk melepasmu. Pun aku tak butuh makna, arti kepergianmu. Aku hanya butuh, janganlah kamu sungkan untuk melangkah lebih jauh.

Jangan pernah jadikan bosan sebagai alasan, sayangku. Sebab memang nyatanya, pada dadaku, resahmu tak menjadi tenang. Pun pada pelukku, kembalimu tak berarti pulang.

Sayangku,
sungguh aku tak sudi, jika terus-menerus kau lukis senyummu, dengan pecahan hatimu yang tinggal setengah. Jangan kaulukai dirimu, hanya untuk membahagiakanku. Jangan. Bahkan dengan kaumemaksa pun, aku tidak akan terima.

Kembali lah segera, jika memang dia satu-satunya kauanggap rumah.

---

Selamat Jatuh Cinta

Selamat Jatuh Cinta

Aku tidak sedang jatuh cinta padamu, aku hanya sedang jatuh cinta (lagi) pada diriku sendiri, pada hidupku. Dan aku bersyukur tidak menyerah hingga detik ini.

Sejujurnya, yang aku rasa, aku pun kamu tidak sedang jatuh cinta satu sama lain. Kita hanya sama-sama sedang jatuh cinta pada diri kita masing-masing. Mencintai setiap hal yang membuat diri kita bahagia. Menerima setiap sakit yang kita miliki. karena aku tidak pernah memiliki sakitmu pun kamu tidak akan pernah memiliki sakitku. Jadi masihkah dianggap kita sedang jatuh cinta satu sama lain?

Kita hanya kebetulan sedang sama-sama dan kebetulan lainnya sama-sama itu saling berhubungan.

Jadi, sesungguhnya aku tidak jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada yang membuatku bahagia, jika itu kamu. Mungkin kebetulan,


---

Langitpun Lelah

Langitpun Lelah

Ternyata bukan hanya aku yang lelah
Langit juga lelah hari ini
Tak tersisa sedikit pun beban
Buncah, ia lepaskan
Terlalu banyak rintik-rintik sendu yang ia keluarkan

Habis, terkuras
Kini semua lepas, kosong
Selamat lahir kembali
Tanpa beban
Tanpa kotoran, suci

Begitulah hujan, ia menyucikan
Kau pun juga harus, jika lelah, gundah, maka menangislah
Dan esok kau harus menjadi kau yang baru

Jadi

Jadi

Jadi. Harus kumulai darimana tulisan ini? Perlukah kutanyakan kabar, lalu aku menyebutkan segala kabarku tanpa pernah kau tanyakan? Sungguh aku tak paham bagaimana harus memulainya. Sesekali aku ingin menulis sesuatu untukmu yang begitu romantis, agar kau percaya aku menulisnya dengan penuh kerinduan, maaf. Tapi sungguh, aku ingin sekali menulis sesuatu untukmu perihal rindu yang telah beranak pinak.
Malam ini aku duduk di depan meja kamarku, rutinitas seperti biasa, jam telah menunjukkan pukul 01.00 tapi mata tak kunjung usai untuk diajak berdebat. Kau tahu, aku kerap kali menunda jam tidurku untuk merindumu berkali-kali, terlebih malam ini. Menulis sesuatu yang tak pernah lebih begitu penting untuk diriku sendiri, sebab aku tahu memang tak pernah kau baca sekalipun tulisanku, mungkin.
Aku tahu kau mungkin bergumam untuk apa aku menulis hal semacam ini, yang bagimu barangkali tak penting. Tapi kuberitahu satu hal, sebab hanya dengan menulis seperti ini aku dapat mengingatmu, menumpahkan seluruh rinduku dengan bertubi tubi tanpa perantara, 
hanya dengan ini, aku merasa cukup.

Aku ingin merangkai segumpal sajak yang ganjil, tempat di mana kata-kataku, bait-bait prosa cerobohku tertulis dalam elegi merindumu, hingga nanti saatnya tiba, aku mendapati kita yang telah menghilang pada masing masing peraduannya. Kau dengan hal-hal barumu, sementara aku masih tak kunjung selesai memahami bahwasannya aku memang tak berhak jatuh cinta.
Bertahun-tahun aku mengumpulkan setiap langkah demi perjalanan yang tidak pernah kutebak jaraknya.
Tiap kali aku berhenti untuk mencari setiap persinggahan, pada akhirnya aku mengerti, mereka tak bisa kusebut rumah jika di ujung jalan ternyata hanya kau yang benar benar layak untuk dijadikan tempat singgah, barang hanya sementara waktu, sebab aku tahu aku tak bisa lama lama untuk menyinggahimu.
Di ujung hari yang lain, aku ingin sekali menghitung setiap bilangan langkahmu yang perlahan lahan menjadi asing, anggap saja sebagai penantian yang luruh secara perlahan.
Barangkali kita perlu sekali lagi bertatap muka, berdua saja, layaknya sepasang kekasih,
oh maaf aku terlalu lancang, maksudku layaknya sepasang sahabat yang esok hari akan dipisahkan oleh banyak hal untuk sebuah waktu yang tak terdefinisikan.
Kemudian sekali lagi aku akan bertanya,

Tidakkah rinduku yang kemarin masih bisa cukup untuk menahanmu?

---

Masing-masing kita

Masing-masing kita

Masing-masing dari kita adalah sebuah jarak,yang barangkali tak pernah terjamah oleh satuan apapun. 

Masing-masing dari kita adalah waktu, yang setiap jengkalnya tak akan terbayar dengan beribu ribu pertemuan 

Masing-masing dari kita adalah doa, yang amin-nya hanya berujung pada perpisahan 

Maka aku memilihmu untuk mendefinisikan ulang, bahwasannya masing-masing dari kita adalah jauh dari doa doa yang dipanjatkan, bahwa setiap yang terucap bagi kita tak lain hanya sebatas perumpamaan

---

Bila Manusia

Bila Manusia

bila manusia mula meletakkan kehendak tuhan melebih kehendaknya,
dia akan mengenal ikhlas,
bila manusia mula percaya tak semua impian akan diperkenan tuhan,
dia akan mengenal ikhtiar,
bila manusia mula berhenti persoalkan segala ujian yang mendatang,
dia akan mengenal redha,
bila manusia mula punya kekuatan untuk memaafkan hal yang kecil,
dia akan mengenal sabar,
bila manusia mula berasa senang dengan kurniaan yang biasa,
dia akan mengenal syukur,

dan bila manusia mula mengenal tuhan,
dia akan mengenal segalanya.